Debat Mahasiswa Agribisnis Digital : Pro dan Kontra Pengendalian Kimiawi dan Ramah lingkungan Dalam Menjamin Ketahanan Pangan
Surabaya, 4 November 2025. Isu ketahanan pangan hari ini tidak hanya berbicara pada kemampuan produksi saja, tetapi juga bagaimana pangan tersebut dihasilkan. Cara kita mengendalikan hama memiliki implikasi jangka pendek dan panjang: apakah kita memilih pestisida kimia yang cepat, atau metode pengendalian yang lebih ramah lingkungan namun membutuhkan proses dan adaptasi?. Melalui salah satu materi dalam Pengantar Ilmu Pertanian yang bertema Penerapan Teknik Pengendalian Hama & Penyakit Secara Efektif dan Ramah Lingkungan, Mahasiswa Agribisnis Digital kami wadahi dalam sebuah diskusi.
Dalam diskusi kali ini, mahasiswa terbagi menjadi 2 antara lain Tim Pro dan Tim Kontra, setiap tim akan mengungkap argumen dan opini terkait tema diskusinya.

Tim Pro berpendapat bahwa, dengan pengendalian dengan kimiawi memiliki keunggulan efisiensi. Di tingkat petani, pestisida sintetis dianggap praktis, hasilnya terlihat cepat, dan mampu menghambat serangan organisme yang dapat mengancam gagal panen. Hingga saat ini mind set yang ada dipetani, ini menjadi “jalan aman dan pasti” dalam menjaga produksi produk pertaniannya tetap stabil. Namun situasi berubah ketika terjadi perubahan iklim, dimana serangan hama dan penyakit semakin dinamis, sehingga dapat memberikan dampak terhadap harga pangan nasional.
Namun sisi lain, Tim Kontra mengatakan penggunaan kimiawi yang berlebihan membawa konsekuensi. Residu yang ditinggalkan tidak hanya berpotensi mencemari tanah dan air, tetapi juga mengancam kesehatan petani dan juga konsumen akhir dari produk pertanian.

Tim Kontra juga berpendapat bahwa dengan melalui pengendalian berbasis lingkungan seperti biopestisida, musuh alami, rotasi tanaman, tanaman refugia, pestisida nabati, hingga penggunaan teknologi sensor presisi menawarkan arah baru untuk pertanian berkelanjutan. Pada akhirnya, yang dapat disimpulkan oleh kedua Tim adalah sebuah teknik pengendalian bukan sekedar memilih “kimiawi” atau “ramah lingkungan”, tetapi bagaimana meramu kombinasi terbaik untuk konteks spesifik. Model Pengendalian Hama Terpadu (PHT/IPM) seharusnya menjadi titik temu, memanfaatkan efektivitas kimiawi secara selektif dan terukur, namun tetap mengedepankan bioekologi untuk menjaga kesehatan agroekosistem. Dengan demikian, produksi tetap efisien, tetapi keberlanjutan dan keamanan pangan generasi mendatang tidak dikorbankan. Pertanian berkelanjutan bukan hanya soal produksi hari ini, tetapi tentang memastikan lahan ini tetap produktif untuk 20–30 tahun ke depan.
Karena itu, pro dan kontra sebetulnya tidak perlu dipertentangkan yang diperlukan adalah keseimbangan rasional, berbasis data, dan didukung kebijakan yang memfasilitasi transisi teknologi di tingkat petani