Krisis Pangan dan Gizi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Pendahuluan
Kabupaten Sigi masih memikul dampak berat dari bencana gempa dan likuifaksi yang menghancurkan ribuan lahan pertanian beberapa tahun lalu. Banyak keluarga kehilangan mata pencaharian dan sumber makanan utama. Pemulihan yang lambat menyebabkan meningkatnya kasus kekurangan gizi di wilayah pedalaman.
Sebagian besar masyarakat kini hidup dari bantuan pangan pemerintah, namun ketergantungan ini justru memperlambat upaya kemandirian pangan jangka panjang. Tanpa diversifikasi ekonomi, risiko kelaparan tetap mengancam.
Isi
Pemerintah bersama lembaga swadaya masyarakat melaksanakan program Food for Recovery yang membantu petani kembali menanam dan memulihkan lahan rusak. Program irigasi dan perikanan air tawar mulai dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.
Selain bantuan teknis, warga juga mendapatkan pelatihan gizi dan sanitasi agar tidak hanya fokus pada produksi pangan, tetapi juga pada kualitas konsumsi keluarga. Upaya ini menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya kemandirian pangan rumah tangga dalam dua tahun terakhir.
Penutup
Krisis pangan di Sigi menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan strategi yang lebih luas dari sekadar bantuan logistik. Kemandirian masyarakat menjadi kunci agar ketahanan pangan bisa bertahan di tengah kondisi darurat.
Dengan sinergi antara pemerintah, LSM, dan masyarakat, Sigi kini mulai bangkit menuju wilayah yang tangguh pangan dan terbebas dari ancaman kelaparan serta kematian akibat gizi buruk.