KAMU TIDAK HARUS SEMPURNA, KAMU HARUS BERSYUKUR
Pagi itu aku bangun dengan perasaan berat. Scrolling media sosial seperti biasa, dan seperti biasa pula, timeline dipenuhi kesempurnaan. Teman A lolos penerimaan CPNS. Teman B liburan ke Jepang. Teman C dapat promosi jabatan. Sementara aku? Masih di kamar yang sama, dengan pekerjaan yang sama, dengan hidup yang terasa jalan di tempat.
"Kenapa hidup mereka sempurna, sementara hidupku biasa-biasa saja?" pikir ku dalam hati.
Pertanyaan itu menggerogoti pikiranku seharian. Sampai sore, saat aku mampir ke warung makan langganan. Di sana aku bertemu Mas Budi, tukang becak yang biasa mangkal di dekat pasar. Wajahnya kusam, bajunya lusuh, tapi senyumnya tetap tulus saat menyapa.
"Alhamdulillah hari ini lumayan, Dik. Dapat tiga penumpang. Buat makan anak-anak sudah cukup," katanya sambil menyeruput teh panas.
Aku terdiam. Mas Budi dengan penghasilan pas-pasan, dengan kondisi yang jauh dari kata sempurna, justru terlihat lebih tenang daripada aku yang mengeluh dengan ponsel di tangan dan atap di atas kepala.
Jebakan Kesempurnaan
Kita hidup di zaman yang terobsesi dengan kesempurnaan. Media sosial menampilkan highlight reel kehidupan orang lain momen terbaik, foto terindah, pencapaian tertinggi. Yang tidak kita sadari, kita sedang membandingkan behind the scenes kehidupan kita dengan highlight reel orang lain. Tidak adil, bukan?
Kita lupa bahwa di balik foto liburan mewah, bisa jadi mereka berutang kartu kredit. Di balik promosi jabatan, bisa jadi mereka stres dan tidak punya waktu untuk keluarga. Di balik senyum sempurna, bisa jadi ada luka yang tidak terlihat.
Kesempurnaan adalah ilusi. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada kehidupan yang sempurna. Yang ada hanyalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kehidupan dengan pasang surutnya.
Bersyukur dengan Apa yang Ada
Lalu apa yang seharusnya kita lakukan? Bersyukur.
Bukan bersyukur yang seperti "alhamdulillah masih bisa bernapas". Bukan. Tapi bersyukur yang jelas. Yang dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.
Bersyukur karena pagi ini kita bangun dengan sehat. Ada jutaan orang di rumah sakit yang berdoa untuk bisa bangun seperti kita. Bersyukur karena ada nasi di piring. Ada banyak orang yang hari ini tidur dalam keadaan lapar. Bersyukur karena punya atap di atas kepala, meskipun bukan rumah mewah. Ada ribuan orang yang tidur di kolong jembatan.
Bersyukur bukan berarti kita berhenti bercita-cita. Bersyukur bukan berarti kita tidak boleh menginginkan yang lebih baik. Tapi bersyukur adalah mengakui bahwa apa yang kita miliki saat ini sudah cukup. Kita boleh mengejar lebih, tapi tidak dengan mengorbankan kebahagiaan hari ini.
Kamu Sudah Cukup
Ada sebuah pepatah: "Kamu tidak akan pernah cukup untuk orang yang salah, dan kamu akan selalu cukup untuk orang yang tepat." Begitu juga dengan hidup. Hidup kita tidak akan pernah terlihat cukup kalau kita terus membandingkannya dengan standar orang lain.
Tapi coba lihat dengan perspektif berbeda. Lihat seberapa jauh kita sudah berjalan dari titik awal. Lima tahun lalu, kita mungkin berdoa untuk posisi yang sekarang kita anggap biasa-biasa saja. Sepuluh tahun lalu, kita mungkin bermimpi tentang kehidupan yang sekarang kita jalani.
Kita sudah berkembang. Mungkin tidak secepat orang lain. Mungkin tidak segemerlap yang kita bayangkan. Tapi kita sudah berkembang. Dan itu sudah luar biasa.
Sempurna Itu Membosankan
Tahukah kamu apa yang membuat lukisan Van Gogh berharga? Bukan karena sempurna. Justru karena goresan kuasnya yang berantakan, warnanya yang tidak biasa, perspektifnya yang unik. Kesempurnaan itu steril, dingin, tidak punya karakter.
Begitu juga dengan hidup kita. Ketidaksempurnaan kita adalah apa yang membuat kita unik. Luka-luka kita adalah bukti bahwa kita pernah berjuang. Kegagalan kita adalah pelajaran yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kekurangan kita adalah ruang untuk bertumbuh.
Jadi, berhentilah mengejar sempurna. Kejar menjadi lebih baik dari hari kemarin. Kejar menjadi versi terbaik dari diri sendiri, bukan versi sempurna dari orang lain.
Hidup Ini Tentang Perjalanan
Aku teringat ucapan Mas Budi tadi sore. "Alhamdulillah hari ini lumayan." Dia tidak mengatakan "hari ini sempurna" atau "hari ini luar biasa". Dia bilang "lumayan". Dan dia ikhlas dengan itu.
Mungkin itulah kuncinya. Tidak perlu sempurna, cukup lumayan. Tidak perlu luar biasa setiap hari, cukup cukup setiap hari. Dan yang paling penting: bersyukur dengan "lumayan" itu.
Karena kalau kita terus menunda kebahagiaan sampai hidup kita sempurna, kita tidak akan pernah bahagia. Kesempurnaan tidak akan pernah datang. Yang datang adalah hari ini, dengan segala ketidaksempurnaannya. Dan hari ini sudah cukup indah untuk disyukuri.
Penutup
Malam ini, sebelum tidur, aku mencoba sesuatu yang berbeda. Alih-alih scrolling media sosial, aku menuliskan tiga hal yang aku syukuri hari ini di buku catatan:
Aku bersyukur bisa makan tiga kali hari ini
Aku bersyukur bertemu Mas Budi yang mengingatkanku untuk bersyukur
Aku bersyukur masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik besok
Sederhana. Tidak sempurna. Tapi nyata. Dan cukup untuk membuatku tersenyum sebelum memejamkan mata. Karena pada akhirnya, kamu tidak harus sempurna. Kamu hanya harus bersyukur dengan apa yang ada. Dan percayalah, itu sudah lebih dari cukup.