Akses Listrik di Blitar Selatan, Jawa Timur
Pendahuluan
Blitar dikenal sebagai kota sejarah dan pertanian, namun bagian selatannya yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia masih memiliki keterbatasan infrastruktur, terutama akses listrik. Beberapa desa di wilayah pegunungan selatan seperti Tambakrejo dan Ngadipuro belum sepenuhnya menikmati listrik 24 jam. Kondisi geografis yang berbukit dan terpencil menjadi tantangan utama bagi perluasan jaringan listrik PLN.
Keterbatasan listrik berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat. Anak-anak sulit belajar di malam hari, dan kegiatan ekonomi seperti pengolahan hasil tani dan perikanan sulit berkembang. Bagi masyarakat pesisir, listrik juga dibutuhkan untuk penyimpanan hasil tangkapan ikan agar tetap segar. Tanpa listrik memadai, potensi ekonomi daerah belum bisa dimaksimalkan.
Pembahasan
Pemerintah Kabupaten Blitar bekerja sama dengan PLN meluncurkan program Listrik Masuk Desa yang fokus memperluas jaringan hingga pelosok selatan. Selain itu, program Desa Mandiri Energi mulai diperkenalkan dengan pemanfaatan tenaga surya di beberapa titik pesisir. Dengan adanya bantuan panel surya, beberapa keluarga kini bisa menyalakan lampu dan mengisi peralatan elektronik sederhana di malam hari.
Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama dalam perawatan alat dan biaya pemasangan awal. Oleh karena itu, pelatihan bagi masyarakat setempat tentang pemeliharaan panel surya dan efisiensi energi menjadi penting. Dengan dukungan masyarakat dan pengawasan pemerintah, program elektrifikasi di Blitar Selatan diharapkan mampu mempersempit kesenjangan pembangunan antarwilayah.
Penutup
Akses listrik di Blitar Selatan adalah simbol perjuangan masyarakat pelosok dalam mengejar pemerataan pembangunan. Dengan inovasi energi terbarukan dan semangat gotong royong, daerah ini perlahan mulai keluar dari kegelapan menuju kehidupan yang lebih produktif. Penerangan bukan hanya soal cahaya, tetapi juga tanda kemajuan dan harapan baru bagi masa depan