Akses Listrik di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat
Pendahuluan
Kepulauan Mentawai merupakan daerah terluar di Sumatera Barat yang terkenal sebagai destinasi wisata dunia bagi peselancar. Namun di balik keindahan pantai dan ombaknya, sebagian besar desa di kepulauan ini masih menghadapi kesulitan dalam mengakses listrik. Letak geografis yang terpencar dan sulit dijangkau membuat biaya distribusi energi sangat tinggi.
Keterbatasan ini berdampak besar pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Banyak warga masih menggunakan lampu minyak atau lilin pada malam hari, dan fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas sering terkendala operasional karena kekurangan daya listrik. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ketimpangan energi antara wilayah pesisir perkotaan dan pulau-pulau kecil di Mentawai.
Pembahasan
Sebagai solusi, pemerintah meluncurkan Program Listrik Desa Kepulauan yang memanfaatkan energi surya dan angin untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur PLN. Di beberapa desa seperti Siberut dan Sikakap, kini telah berdiri PLTS komunal yang mampu menyediakan listrik untuk puluhan rumah selama 10–12 jam per hari. Masyarakat juga dilatih untuk mengelola sistem tersebut secara mandiri.
Selain itu, sejumlah lembaga swasta ikut berperan dalam menyediakan teknologi penyimpanan energi agar pasokan listrik tetap stabil di malam hari. Inovasi ini tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan energi lokal. Kini, warga Mentawai bisa menikmati malam yang terang sambil menjalankan aktivitas ekonomi dengan lebih produktif.
Penutup
Elektrifikasi di Kepulauan Mentawai merupakan contoh nyata keberhasilan program energi terbarukan di wilayah kepulauan. Dengan dukungan teknologi dan partisipasi masyarakat, akses listrik kini bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan yang mulai terpenuhi secara merata. Harapan ke depan, Mentawai dapat menjadi model pengelolaan energi bersih di kawasan pesisir barat Indonesia