Denpasar dan Inovasi Pertanian Ramah Lingkungan Berbasis Energi Surya
Pendahuluan
Sebagai ibu kota Provinsi Bali, Denpasar terkenal dengan sektor pariwisata dan gaya hidup modern. Namun di balik hiruk pikuk kota, Denpasar juga berupaya mempertahankan identitas agrarisnya. Salah satu langkah inovatif yang dilakukan adalah pengembangan pertanian berbasis energi surya (solar farming).
Inovasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pertanian, tetapi juga mendukung konsep green energy yang selaras dengan prinsip Tri Hita Karana — keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Pembahasan
Program pertanian energi surya di Denpasar dimulai sejak tahun 2022 di daerah Subak Sembung dan Peguyangan. Melalui kerja sama antara Pemerintah Kota Denpasar, Bali Green Energy, dan kelompok tani lokal, dibangunlah sistem panel surya pertanian yang berfungsi untuk menggerakkan pompa air, alat irigasi tetes otomatis, serta sistem ventilasi rumah kaca.
Sebelumnya, petani menggunakan pompa berbahan bakar bensin atau listrik konvensional yang biayanya cukup tinggi. Dengan sistem panel surya, biaya operasional dapat ditekan hingga 35%, dan pasokan energi menjadi lebih stabil karena sumbernya berasal dari matahari yang melimpah sepanjang tahun.
Teknologi ini juga ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi karbon, sehingga sejalan dengan visi Bali menuju zero emission island tahun 2045.
Selain untuk irigasi, energi surya dimanfaatkan untuk pengeringan hasil pertanian, seperti gabah, buah, dan rempah. Proses pengeringan menggunakan solar dryer dome mampu menjaga kualitas produk dan mempercepat waktu produksi. Para petani UMKM bahkan menggunakan energi surya untuk menjalankan mesin pengemasan produk organik, yang meningkatkan nilai jual hasil panen mereka.
Program ini juga memperkenalkan sistem pertanian terpadu energi surya, di mana satu lahan digunakan untuk dua fungsi: produksi pangan di bawah panel surya, dan pembangkitan listrik di atasnya. Konsep ini dikenal sebagai agrivoltaic system, yang mulai diterapkan di beberapa wilayah di Denpasar Utara.
Dampak sosialnya sangat positif. Petani yang semula enggan beralih ke teknologi kini mulai terbiasa dengan sistem digital monitoring untuk memantau daya listrik dan distribusi air. Anak muda Bali pun tertarik ikut serta dalam gerakan ini karena dinilai selaras dengan nilai keberlanjutan lingkungan dan pariwisata hijau (eco-tourism).
Keberhasilan proyek ini membuat Denpasar dilirik sebagai kota percontohan energi bersih pertanian oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian ESDM. Jika diperluas ke seluruh Bali, sistem ini berpotensi menghemat hingga 100 juta rupiah biaya listrik pertanian per tahun dan menurunkan emisi karbon sebesar 120 ton.
Kesimpulan
Inovasi pertanian berbasis energi surya di Denpasar membuktikan bahwa teknologi dapat berjalan seiring dengan kelestarian alam dan budaya. Dengan memanfaatkan potensi energi matahari, petani mampu menekan biaya, meningkatkan produktivitas, dan mendukung pariwisata berkelanjutan.
Konsep solar farming ini tidak hanya relevan bagi Bali, tetapi juga menjadi inspirasi nasional dalam membangun sistem pertanian hijau yang efisien dan ramah lingkungan.
Daftar Pustaka Singkat
Dinas Pertanian Denpasar. (2024). Laporan Program Pertanian Energi Surya Kota Denpasar.
Bali Green Energy. (2023). Penerapan Sistem Agrivoltaic di Subak Sembung.
Kementerian Pertanian RI. (2024). Studi Kasus Penerapan Energi Terbarukan untuk Pertanian Tropis.