Pengelolaan Air dan Irigasi di Pertanian Indonesia
Pendahuluan
Air merupakan sumber kehidupan utama bagi sektor pertanian. Di Indonesia, sekitar 80% penggunaan air nasional digunakan untuk kebutuhan pertanian, terutama untuk sawah. Namun, seiring dengan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan alih fungsi lahan, ketersediaan air pertanian semakin terbatas. Pengelolaan air dan sistem irigasi yang efisien menjadi kunci keberlanjutan produksi pangan nasional. Tanpa sistem pengairan yang baik, hasil panen bisa menurun drastis dan ketahanan pangan terancam.
1. Kondisi Sistem Irigasi Pertanian di Indonesia
1.1 Ketergantungan pada Sistem Irigasi Teknis
Sekitar 60% lahan sawah di Indonesia bergantung pada sistem irigasi teknis yang dikelola oleh pemerintah melalui jaringan bendungan, saluran primer, dan sekunder. Namun, sebagian besar infrastruktur ini sudah berusia tua dan memerlukan perbaikan.
1.2 Tantangan Distribusi Air
Masih banyak petani yang mengalami kekeringan saat musim kemarau dan kelebihan air saat musim hujan. Ketimpangan distribusi air sering terjadi karena buruknya manajemen di tingkat daerah serta sedimentasi saluran irigasi.
1.3 Ketergantungan pada Curah Hujan
Lahan tadah hujan masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia, terutama di Nusa Tenggara, Sulawesi, dan sebagian Kalimantan. Petani di daerah ini sangat rentan terhadap perubahan iklim dan keterlambatan musim tanam.
2. Masalah Utama dalam Pengelolaan Air
2.1 Kerusakan Infrastruktur
Data dari Kementerian PUPR menunjukkan bahwa sekitar 40% jaringan irigasi nasional dalam kondisi rusak ringan hingga berat akibat sedimentasi, erosi, atau kurangnya perawatan rutin.
2.2 Konflik Penggunaan Air
Air pertanian sering bersaing dengan kebutuhan industri, rumah tangga, dan pariwisata. Ketidakseimbangan ini menimbulkan konflik sosial, terutama di daerah dengan sumber air terbatas.
2.3 Kurangnya Partisipasi Petani
Dalam banyak kasus, petani tidak dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan irigasi, sehingga muncul ketergantungan pada bantuan pemerintah tanpa kesadaran menjaga fasilitas bersama.
3. Inovasi dan Teknologi dalam Pengelolaan Air
3.1 Sistem Irigasi Tetes dan Sprinkler
Teknologi irigasi hemat air seperti drip irrigation dan sprinkler mulai diterapkan di beberapa wilayah hortikultura. Sistem ini mampu mengefisienkan penggunaan air hingga 50–70%.
3.2 Irigasi Berbasis Internet of Things (IoT)
Beberapa startup pertanian di Indonesia telah mengembangkan alat sensor kelembapan tanah yang dapat mengatur volume air secara otomatis. Contohnya, SmarTani Project di Jawa Tengah yang meningkatkan efisiensi air dan produktivitas padi.
3.3 Pengelolaan Terpadu DAS (Daerah Aliran Sungai)
Pendekatan ini melibatkan pengendalian air dari hulu ke hilir, termasuk reboisasi, konservasi tanah, dan pembangunan embung desa untuk menampung air hujan.
4. Kebijakan dan Program Pemerintah
4.1 Rehabilitasi Jaringan Irigasi Nasional
Melalui program Percepatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi (PRJI), pemerintah menargetkan perbaikan lebih dari 3 juta hektar jaringan irigasi hingga 2025.
4.2 Program P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air)
Program ini memberdayakan petani agar ikut mengelola jaringan irigasi sekunder dan tersier. Pendekatan partisipatif ini membantu menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap sumber air.
4.3 Pembangunan Embung dan Sumur Resapan Desa
Sejak 2019, ribuan embung desa dibangun untuk menampung air hujan dan digunakan saat musim kemarau, terutama di daerah rawan kekeringan seperti NTB dan NTT.
Kesimpulan
Pengelolaan air dan irigasi yang baik adalah fondasi keberlanjutan pertanian Indonesia. Kombinasi antara teknologi modern, kebijakan pemerintah yang inklusif, serta partisipasi aktif petani akan menciptakan sistem pengairan yang efisien dan adil. Dengan perencanaan jangka panjang dan inovasi, Indonesia dapat menjaga produktivitas pertanian sekaligus melestarikan sumber daya air untuk generasi mendatang.