Peningkatan Suhu dan Ancaman Produksi Pertanian di Bali
Pendahuluan
Pulau Bali yang dikenal dengan sawah subaknya kini mulai merasakan dampak nyata perubahan iklim. Peningkatan suhu rata-rata sebesar 1–2°C menyebabkan penguapan air meningkat, sehingga debit irigasi menurun. Pola tanam menjadi tidak menentu, dan beberapa hama baru muncul akibat perubahan ekosistem mikro.
Fenomena ini membuat hasil panen padi dan hortikultura menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan lokal.
Isi
Pemerintah Provinsi Bali bersama komunitas subak melaksanakan program adaptasi berbasis kearifan lokal dengan mengatur ulang sistem irigasi tradisional agar lebih efisien terhadap perubahan cuaca. Teknologi sensor kelembapan tanah juga mulai digunakan untuk membantu petani mengatur waktu penyiraman yang optimal.
Selain itu, diversifikasi tanaman dilakukan dengan menanam varietas hortikultura bernilai tinggi seperti cabai, tomat, dan bunga tropis yang tahan terhadap suhu tinggi. Langkah ini tidak hanya menjaga produksi, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani.
Penutup
Perubahan iklim di Bali menunjukkan bahwa bahkan sistem pertanian tradisional yang kuat sekalipun memerlukan inovasi baru untuk bertahan. Sinergi antara teknologi modern dan kearifan lokal menjadi solusi terbaik dalam menghadapi tantangan iklim global.
Dengan kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat adat, dan lembaga riset, Bali dapat terus menjaga harmoni antara alam dan pertaniannya di tengah perubahan iklim dunia.