Stunting di Kabupaten Blitar (Jawa Timur)
Pendahuluan
Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang masih menghadapi permasalahan serius terkait stunting. Meski dikenal sebagai wilayah agraris dengan ketersediaan bahan pangan yang melimpah, angka stunting di Blitar masih tergolong cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketersediaan pangan tidak otomatis menjamin kualitas gizi yang baik pada anak-anak. Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti pola asuh, sanitasi lingkungan, hingga tingkat pendidikan orang tua.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat pedesaan turut memperburuk situasi. Sebagian keluarga masih berpenghasilan rendah, sehingga pemenuhan kebutuhan gizi anak belum menjadi prioritas utama. Selain itu, kebiasaan makan masyarakat yang lebih berorientasi pada kenyang daripada seimbang juga berperan besar dalam menurunkan asupan gizi. Pemerintah daerah sebenarnya telah berupaya melalui program pencegahan stunting, tetapi hasilnya masih belum maksimal.
Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan adanya penurunan kasus stunting setiap tahun, namun laju penurunannya masih lambat. Hal ini mengindikasikan perlunya strategi baru yang lebih menyentuh akar permasalahan. Terutama dalam hal edukasi gizi dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan anak. Dengan pendekatan yang tepat, Blitar sebenarnya berpotensi besar menjadi contoh daerah bebas stunting di masa depan.
Pembahasan
Masalah stunting di Blitar tidak hanya disebabkan oleh kekurangan makanan bergizi, tetapi juga karena kurangnya edukasi tentang gizi keluarga. Banyak ibu rumah tangga yang belum memahami pentingnya pemberian ASI eksklusif, MPASI yang seimbang, serta pola makan bervariasi untuk anak-anak. Selain itu, praktik kebersihan seperti mencuci tangan sebelum makan dan menjaga kebersihan air minum juga sering diabaikan. Kombinasi antara gizi buruk dan sanitasi buruk menjadi penyebab utama munculnya kasus stunting.
Program pemerintah seperti Gerakan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), posyandu, dan pemberian makanan tambahan bagi balita gizi buruk sebenarnya sudah berjalan. Namun, partisipasi masyarakat masih belum maksimal. Banyak keluarga yang belum rutin membawa anaknya ke posyandu, terutama di wilayah pedesaan. Tenaga kesehatan di lapangan pun sering kali terbatas dalam jumlah dan fasilitas. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat sangat diperlukan.
Selain faktor kesehatan, aspek ekonomi juga berperan penting. Ketika pendapatan rendah, masyarakat cenderung memilih makanan murah namun kurang bernutrisi. Oleh karena itu, program pemberdayaan ekonomi keluarga seperti pelatihan usaha rumahan atau bantuan modal dapat menjadi solusi jangka panjang. Dengan meningkatnya kesejahteraan, daya beli masyarakat terhadap pangan bergizi juga meningkat.
Penutup
Penanganan stunting di Blitar membutuhkan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya dengan pemberian bantuan makanan tambahan, tetapi harus disertai dengan edukasi, perbaikan sanitasi, dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Pemerintah perlu memperkuat kerja sama lintas sektor antara Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Dinas Pertanian agar intervensi gizi lebih efektif