Transformasi Pertanian Indonesia Melalui Digitalisasi: Peran Strategis Gen Z
Perkembangan teknologi digital telah menciptakan perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pertanian. Di Indonesia, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional, namun menghadapi tantangan serius seperti menurunnya minat generasi muda, rendahnya produktivitas, dan dominasi petani berusia tua. Dalam situasi inilah Generasi Z (Gen Z) memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang dapat mempercepat modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi digital. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, smartphone, dan media sosial, Gen Z mempunyai kemampuan adaptasi teknologi yang sangat tinggi.
Pada era digital, berbagai platform teknologi seperti Internet of Things (IoT), drone agriculture, big data, hingga aplikasi manajemen lahan telah menjadi solusi bagi permasalahan klasik pertanian, seperti inefisiensi penggunaan pupuk, kendala tenaga kerja, dan monitoring lahan. Gen Z memiliki keunggulan dalam mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut. Ketertarikan mereka pada inovasi, eksplorasi aplikasi, dan kemampuan mempelajari teknologi baru dengan cepat menjadikan generasi ini motor digitalisasi pertanian.
Salah satu kontribusi nyata Gen Z adalah meningkatnya minat terhadap konten pertanian berbasis teknologi yang banyak muncul di media sosial. YouTube, TikTok, serta Instagram menjadi sarana edukasi dan dokumentasi praktik pertanian modern. Melalui konten, Gen Z memperkenalkan metode seperti hidroponik, aquaponik, urban farming, hingga smart farming. Dampaknya signifikan: pertanian mulai dipandang sebagai kegiatan modern dan berteknologi tinggi, bukan sekadar pekerjaan fisik yang melelahkan.
Integrasi digitalisasi juga memungkinkan terciptanya ekosistem pertanian yang lebih inklusif. Gen Z sering membentuk komunitas digital untuk berbagi pengetahuan, menjual produk secara daring, atau mengadvokasi isu pertanian melalui kampanye online. Komunitas seperti ini mempercepat arus pengetahuan dan membuka ruang kolaborasi yang sebelumnya sulit diwujudkan. Digitalisasi juga memungkinkan akses pasar lebih luas melalui platform e-commerce dan social-commerce, yang sangat potensial bagi petani muda.
Meski demikian, kontribusi Gen Z tidak lepas dari tantangan. Rendahnya minat sebagian besar anak muda terhadap pertanian masih menjadi hambatan. Banyak dari mereka menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang tidak bergengsi atau berpenghasilan rendah. Di sinilah digitalisasi berperan mengubah persepsi tersebut. Ketika pertanian dipadukan dengan teknologi modern, profesi petani dapat berubah menjadi profesi masa depan yang inovatif, kreatif, dan menjanjikan.
Dengan kemampuan teknologi yang tinggi, ide kreatif, dan pola pikir inovatif, Gen Z membawa harapan baru bagi sektor pertanian Indonesia. Melalui digitalisasi, mereka dapat membantu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Adica, R. (2020). Pemanfaatan Teknologi Internet oleh Generasi Z dalam Kehidupan Sehari-Hari. Jurnal Informatika Nusantara, 8(2), 45–52.
Anwar, M. (2022). Green Economy sebagai Strategi dalam Menangani Masalah Ekonomi dan Multilateral. Jurnal Pajak dan Keuangan Negara, 4(1S). https://doi.org/10.31092/jpkn.v4i1s.1905
Asmy, Y. Y., dkk. (2022). Perancangan Kios Iptek dalam Manajemen Pertanian bagi Petani. JURISMA: Jurnal Riset Bisnis & Manajemen, 12(1). https://doi.org/10.34010/jurisma.v12i1.5529
Banowati, E. (2016). Pemberdayaan Penduduk Pesanggem untuk Pengentasan Kemiskinan dan Pemulihan Sumber Daya Hutan Muria. SPATIAL: Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi, 16(2). https://doi.org/10.21009/spatial.162.05