Katanya peduli lingkungan, tapi sungai masih jadi tempat sampah.
Latar Belakang
Masalah sampah yang menumpuk di sungai masih menjadi salah satu isu lingkungan paling serius di Indonesia. Hampir di setiap wilayah, sungai-sungai tercemar oleh sampah rumah tangga, plastik bekas pakai, dan limbah dari kegiatan manusia sehari-hari. Padahal, masyarakat sering berkampanye tentang betapa pentingnya menjaga kebersihan alam. Sayangnya, antusiasme itu biasanya cuma berhenti di omongan dan postingan di media sosial, tanpa ada perubahan nyata dalam rutinitas harian kita.
Berdasarkan data World Bank (2021) Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik per tahun, dan sekitar 4,9 juta ton di antaranya tidak terkelola dengan baik. Sebagian besar akhirnya mencemari laut dan sungai.
Lembaga ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) juga mengungkapkan bahwa banyak sungai di Indonesia sedang mengalami "darurat plastik", di mana sebagian besar sampah yang menumpuk berasal dari kegiatan rumah tangga, bukan dari sektor industri. Bahkan, penelitian mereka menunjukkan bahwa di beberapa sungai di Jawa Timur, kadar mikroplastik bisa mencapai 6 partikel per liter udara, yang menandakan tingkat kontaminasi sudah benar-benar memprihatinkan.
Situasi ini menunjukkan bahwa masalah pokoknya bukanlah kurangnya fasilitas kebersihan, melainkan minimnya kesadaran di tengah masyarakat. Pemerintah bersama relawan lingkungan sudah berusaha membersihkan sungai secara berkala, namun tumpukan sampah selalu muncul lagi hanya dalam hitungan hari. Hal ini memperkuat fakta bahwa kepedulian terhadap lingkungan belum benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, melainkan hanya jadi slogan yang mudah diucapkan tapi sulit diwujudkan.
Penyebab Utama Masalah
Salah satu penyebab utama mengapa sungai masih sering dijadikan tempat buang sampah adalah karena kebiasaan masyarakat yang sulit sekali diubah. Banyak orang merasa kalau hanya buang satu kemasan plastik ke sungai, itu bukan masalah besar, tapi kalau ribuan orang yang mikir begitu, akhirnya sampahnya menumpuk dan bisa menyumbat aliran air. Kurangnya pemahaman dan rasa tanggung jawab soal menjaga kebersihan lingkungan bikin hal ini dianggap sebagai sesuatu yang "biasa aja". Di sisi lain, cara pengelolaan sampah di beberapa wilayah juga belum maksimal. Tempat-tempat buang sampah sering kurang lengkap, makanya orang-orang mencari cara cepat dengan langsung membuang ke sungai dekat rumah.
Dampak yang terjadi
Kebiasaan ini membawa dampak yang benar-benar memprihatinkan. Sampah yang terus menumpuk di sungai bisa membuat aliran air tersumbat, dan itu menambah risiko banjir jika hujan datang. Ditambah lagi, limbah plastik yang terurai menjadi mikroplastik yang bisa mencemari air, dan membahayakan ekosistem sungai, bahkan bisa masuk ke rantai makanan manusia. Masyarakat juga langsung merasakan akibatnya, seperti bau yang tidak enak, penyebaran penyakit, dan lingkungan yang jadi kurang indah. Ironisnya, dampak yang ditimbulkan bukan hanya orang-orang yang membuang sampah seenaknya, tapi semua warga yang tinggal di deket sungai.
Solusi dan Ajakan
Masalah ini sebenarnya bisa diselesaikan kalau masyarakat secara bersama-sama punya kesadaran untuk berubah. Langkah sederhana seperti menghindari membuang sampah ke sungai, memilah sampah di rumah, dan juga ikut kegiatan bersih-bersih lingkungan itu sudah jadi awal yang bagus. Pemerintah juga harus lebih tegas lagi dalam mengatur pengelolaan sampah serta menyediakan fasilitas yang cukup agar orang-orang tidak lagi terlihat membuang sampah sembarangan. Pada dasarnya, menjaga sungai tetap bersih itu bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tapi tanggung jawab kita semua bersama. Kalau setiap orang benar-benar peduli dan mau mengambil tindakan, sungai tidak akan menjadi tempat sampah lagi, tapi malah menjadi sumber kehidupan yang bersih dan berguna.